Jakarta (SOHIB21) – Deputi Bidang Kreativitas, Budaya, dan Desain Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) Yuke Sri Rahayu mendorong pengusaha atau desainer modest fesyen lokal agar bisa memperluas pasar global.
“Sebetulnya desainer kita banyak. Kekayaan desain, warna, wastra, segala macam, kita nomor satu. Tapi itu tadi kita belum bisa menjangkau ke luar. Nah itu PR,” kata Yuke Sri Rahayu dalam acara brand Taza Exclusive Gathering, di Jakarta, Jumat.
Menurut dia, saat ini modest fesyen menjadi lifestyle masyarakat. Sebagai salah satu penduduk muslim terbesar dunia, Indonesia bisa sebagai pusat modest fesyen.
Hal ini lantaran dia menjelaskan berdasarkan data konsumsi busana Muslim Indonesia sekitar 20 miliar dolar AS atau sekitar Rp286 triliun, dengan setiap tahun pertumbuhannya rata-rata 18,2 persen per tahun.
Namun, Indonesia masih belum menjadi eksportir modest fesyen dunia, di mana saat ini masih didominasi oleh negara Turki, China, dan India.
“Nah ini, tapi hati-hati, jangan sampai kita itu sebagai negara terbesar hanya konsumen saja sebagai pengkonsumsi saja. Tapi harus mulai memikirkan bahwa kita juga harus mulai mikir ke luar,” ujarnya.
Yuke mendorong desainer supaya lebih inovatif dalam bermain di industri modest fesyen. “Inovatif itu adalah salah satu kriteria dari ekonomi kreatif. Harus ada inovasi, harus ada adaptasi, harus ada kolaborasi. Nah inovatif itu nantinya kita bisa mendapat nilai tambah,” ucapnya.
Dalam acara ini, Yuke juga mengapresiasi upaya industri modest fesyen lokal salah satunya seperti Taza dalam menghadirkan pakaian Muslim yang inovatif, dalam hal ini bisa menjejaki ke London Muslim Shopping Festival (LMSF) 2025.
“Keikutsertaan Taza di London Muslim Shopping Festival 2025 menunjukkan bahwa modest fesyen Indonesia memiliki daya saing di pasar global. Semoga langkah ini menjadi inspirasi bagi pelaku industri lainnya untuk terus berinovasi dan memperluas jangkauan pasar,” katanya.
Pewarta: Sri Dewi Larasati
Leave a Reply